Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Sampoerna Academy
Thursday, 26 February 2009
   pks malang 03.jpg
Jakarta, 25 Februari 2009 – Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Malang dan Sampoerna Foundation pada hari rabu menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS)  guna memberikan dukungan sepenuhnya pada pembentukan Sampoerna Academy di Jawa Timur. Dengan komitmen yang kuat, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Malang, Drs. H. Shofwan S.H. menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Eddy Henry, Director of Programs and Alumni Affairs  Sampoerna Foundation di gedung Sampoerna Strategic Square. Acara ini juga disaksikan oleh Drs. H. Rasiyo, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Pemprov Jatim, Sapto H. Sakti, Communication Director Sampoerna Foundation dan perwakilan dari PT. HM. Sampoerna Tbk, sebagai donor utama program ini di Jawa Timur, Yos Adiguna Ginting , Corporate Affairs Director.
 
Penandatanganan ini merupakan langkah lanjut dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani oleh Walikota Kota Malang, Drs Peni Suparto, MAP dengan Elan Merdy, Chief Operating Officer Sampoerna Foundation yang disaksikan oleh Pj. Gubernur Jatim, Setia Purwaka, di kantor Gubernur Jawa Timur pada tanggal 19 Desember 2008 lalu. PKS ini akan mendorong pembangunan SMAN 10 Malang menjadi Sekolah Internasional berasrama yang sudah lama dinantikan.

 
Pada kesempatan ini, Rosiyo mengatakan bahwa  pendidikan adalah isu penting yang menjadi perhatian pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan anggaran pendidikan menjadi 20% dari total anggaran nasional. Beliau juga mengingatkan bahwa ada 8 (delapan) standar yang harus dipenuhi untuk menjadi sekolah internasional yaitu Standar Isi, Standar Proses, Standar Kemampuan lulusan, Standar Pendidik dan Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Manajemen, Standar Keuangan dan Standar Penilaian.

 
“Peningkatan kualitas pendidikan pada akhirnya akan menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Oleh karena itu, semua guru juga harus meningkatan kemampuan mereka, terutama kemampuan berbahasa Inggris. Selain itu, 20% sampai 30% guru harus menyandang gelar S2.” tambah Rosiyo.

 
Selanjutnya, Communication Director Sampoerna Foundation, Sapto H. Sakti, menekankan, “Pembentukan sumber daya manusia itu memerlukan beberapa proses. Kami sangat berharap bahwa usaha ini tidak hanya terhenti pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Kami pun telah memikirkan apa yang akan para lulusan lakukan setelah mereka menyelesaikan pendidikan mereka. Kolabolasi dari pemerintah daerah dan sektor swasta, dalam hal ini PT. HM Sampoerna Tbk, harus selalu ditingkatkan. Semoga Sampoerna Academy bukan hanya membuat Malang terkenal dengan apel, tetapi juga terkenal dengan sumber daya manusia nya yang unggul”

Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 02 March 2009 )